Tasbih Dalam Distorsi

Ramadhan selalu datang seperti gema yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia berputar setahun sekali, tetapi resonansinya tinggal lebih lama dari kalender. Ia mengetuk pintu subuh dengan azan yang terdengar seperti panggilan purba, dan di sela-sela lapar yang jinak, ada ruang kosong yang terasa lebih luas dari biasanya. Tahun ini, entah kenapa, ruang kosong itu saya isi dengan sesuatu yang tidak lazim: saya memutar ulang Celestial dari ISIS.

Barangkali terdengar ironis. Album yang berat, lambat, penuh distorsi dan repetisi hipnotik, dimainkan di bulan yang identik dengan tilawah, qasidah, dan lagu-lagu religi yang bersih dari dengung ampli. Tetapi justru di situlah letak paradoksnya: Ramadhan bukan hanya tentang kelembutan; ia juga tentang penahanan, tentang disiplin, tentang menghadapi diri sendiri tanpa distraksi gula, nikotin, dan kebisingan dunia. Dan Celestial adalah kebisingan yang sangat terkontrol, sebuah disiplin dalam bentuk suara.

Saya pertama kali mengenal Celestial bertahun-tahun lalu, di masa ketika hidup terasa seperti lorong asrama yang lembap dan penuh asap rokok. Waktu itu saya masih percaya bahwa kebisingan adalah bentuk perlawanan. Distorsi adalah cara mengatakan “tidak” pada dunia yang terlalu rapi. Tapi mendengarkannya lagi di bulan puasa memberi pengalaman yang berbeda. Ia bukan lagi perlawanan; ia menjadi kontemplasi.

Ramadhan mengubah cara tubuh menerima suara. Ketika perut kosong dan tenggorokan kering, telinga menjadi lebih peka. Setiap dentum drum terasa lebih dalam, setiap feedback gitar seperti memantul di rongga dada yang tidak terisi kopi. Celestial dibuka dengan atmosfer yang lambat membangun, seperti kabut yang tidak tergesa-gesa menjadi hujan. Tidak ada ledakan instan; yang ada adalah akumulasi. Dan akumulasi itu mengingatkan saya pada hari-hari puasa: dari imsak ke zuhur, dari zuhur ke asar, dari asar ke magrib. Intensitas tidak datang tiba-tiba; ia tumbuh.

Ada sesuatu yang sangat sufistik dalam repetisi. Zikir, dalam pengertiannya yang paling purba, adalah pengulangan. Kata yang sama diulang sampai ia kehilangan bentuk literalnya dan berubah menjadi getaran. Musik post-metal seperti ISIS juga bekerja dengan prinsip itu: riff yang sama, diputar berulang, dengan variasi kecil yang nyaris tak kasat mata, sampai akhirnya ia berubah menjadi lanskap. Mendengarkan Celestial di Ramadhan membuat saya menyadari bahwa kebisingan pun bisa menjadi tasbih.

Saya ingat satu sepulang kerja menjelang magrib. Jalanan lebih lengang dari biasanya. Orang-orang pulang dengan kantong plastik berisi kolak dan gorengan. Saya menolak godaan untuk menyalakan televisi atau membuka media sosial. Saya memilih headphone. Begitu gitar masuk dengan distorsi tebal dan vokal yang terdengar seperti teriakan dari dasar sumur, saya tidak merasa sedang melawan suasana religius; saya justru merasa sedang menyelaminya dari sudut yang lain.

Karena bukankah spiritualitas tidak selalu harus lembut?

Ada spiritualitas yang hadir dalam kerapuhan. Dalam rasa lelah. Dalam tubuh yang kekurangan nikotin dan kafein. Dalam kepala yang sedikit ringan karena gula darah turun. Di situ, Celestial bekerja seperti cermin gelap. Ia tidak memberi jawaban, tidak menawarkan penghiburan instan. Ia hanya membuka ruang.

Saya tumbuh dalam tradisi yang menekankan keteraturan: saf yang lurus, bacaan yang fasih, doa yang sistematis. Tetapi hidup saya sendiri sering kali lebih dekat pada distorsi daripada harmoni. Saya pernah berada di fase di mana pil antidepresan terasa lebih nyata daripada khotbah Jumat. Di masa-masa itu, musik keras bukan sekadar selera; ia adalah penopang. Dan ketika Ramadhan datang, selalu ada rasa bersalah yang samar: apakah kebisingan ini pantas dibawa ke bulan suci?

Tahun ini, saya berhenti mengajukan pertanyaan itu. Saya justru membiarkan kebisingan dan kesunyian duduk berdampingan. Celestial bukan album yang ramah. Ia berat, seperti judulnya yang ironis, “langit” yang seharusnya ringan justru terasa menekan. Tetapi justru karena itu ia relevan. Ramadhan bukan hanya bulan euforia religius; ia juga bulan konfrontasi. Kita dikurung dalam tubuh sendiri selama lebih dari dua belas jam tanpa asupan. Kita dipaksa berdamai dengan dorongan-dorongan paling dasar. Lapar adalah distorsi biologis. Haus adalah feedback yang tak bisa dimatikan. Dan dalam keadaan itu, musik yang jujur tentang tekanan terasa lebih autentik daripada lagu-lagu yang terlalu manis.

Saya mendengarkan satu trek yang membangun perlahan, hampir seperti mantra industrial. Drum yang repetitif mengingatkan saya pada detak jam menjelang magrib. Setiap menit terasa lebih panjang dari biasanya. Ada momen ketika gitar akhirnya meledak, dan saya merasakan sensasi katarsis yang aneh, seperti takbir yang dilepaskan setelah seharian menahan diri. Ledakan itu bukan perusakan; ia pelepasan.

Di titik itu saya menyadari sesuatu: mungkin yang membuat musik ini terasa spiritual bukan liriknya, melainkan strukturnya. Ia mengajarkan kesabaran. Ia tidak memberi klimaks di awal. Ia meminta kita bertahan dalam kebosanan, dalam repetisi, dalam ketegangan yang belum selesai. Sama seperti puasa.

Saya teringat masa kuliah saya, tahun-tahun yang lebih banyak dihabiskan di antara diskusi filsafat setengah mabuk dan konser noise di ruangan pengap. Waktu itu saya mengira spiritualitas adalah sesuatu yang harus dicari di tempat-tempat jauh: di buku-buku Rumi, di ceramah-ceramah yang viral, di perjalanan yang eksotis. Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari saya akan menemukan resonansi religius dalam album sludge metal dari awal 2000-an.

Tetapi mungkin memang begitulah cara kerja makna: ia tidak tunduk pada genre.

Ramadhan, bagi saya sekarang, bukan lagi soal menjadi versi diri yang paling saleh selama sebulan penuh. Ia lebih seperti laboratorium. Tempat saya menguji ulang kebiasaan, kecanduan, dan keyakinan. Ketika saya berhenti merokok di siang hari, saya menyadari betapa besar ruang yang sebelumnya diisi oleh asap. Ketika saya menahan diri dari kopi, saya merasakan kepala yang lebih jernih, meski sedikit pusing. Dan di ruang kosong itu, suara Celestial masuk seperti kabut yang tidak menghakimi.

Ada satu momen yang sangat personal: saya duduk sendirian menjelang sahur, lampu dimatikan, hanya cahaya layar kecil yang menyala. Vokal yang terdengar seperti raungan jauh membuat saya berpikir tentang doa-doa yang tidak pernah saya ucapkan keras-keras. Tentang ketakutan yang saya simpan rapat-rapat. Tentang rasa bersalah yang tidak selalu punya nama. Musik itu tidak menyembuhkan. Ia hanya menemani. Dan kadang-kadang, ditemani sudah cukup.

Saya tahu ada orang yang akan menganggap ini bentuk profanasi. Mengaitkan Ramadhan dengan musik sekeras ini mungkin dianggap tidak sensitif. Tetapi bagi saya, iman tidak pernah lahir dari sterilisasi total. Ia tumbuh justru dalam gesekan. Dalam dialog antara yang sakral dan yang sekuler. Dalam keberanian mengakui bahwa hidup tidak selalu selaras dengan naskah ideal.

Celestial berbicara tentang tekanan kosmik, tentang manusia yang kecil di hadapan sesuatu yang lebih besar. Ramadhan juga mengingatkan hal yang sama: kita rapuh. Kita bergantung. Kita tidak sekuat yang kita kira. Ketika azan magrib berkumandang dan saya meneguk air pertama, ada rasa syukur yang primitif. Tubuh dan jiwa bertemu di satu titik sederhana: lega. Dan setelah itu, ketika saya kembali menekan tombol play, suara gitar yang berat terasa seperti gema dari rasa syukur itu sendiri.

Mungkin ini terdengar berlebihan. Mungkin saya hanya memproyeksikan kebutuhan akan makna ke dalam musik yang kebetulan saya sukai. Tetapi bukankah semua pengalaman spiritual juga melibatkan proyeksi? Kita memberi arti pada sunyi. Kita memberi simbol pada gerakan. Kita memberi nama pada getaran. Di akhir Ramadhan nanti, saya mungkin akan kembali ke rutinitas biasa. Kopi pagi, rokok setelah makan, playlist yang lebih beragam. Tetapi pengalaman mendengarkan Celestial di bulan puasa ini akan tinggal sebagai catatan kecil dalam arsip batin saya. Ia mengajarkan bahwa kebisingan tidak selalu musuh kesucian. Bahwa distorsi pun bisa menjadi jalan menuju refleksi. Dan mungkin, pada akhirnya, yang kita cari bukanlah kesunyian absolut, melainkan harmoni yang jujur antara semua bagian diri, yang religius dan yang liar, yang patuh dan yang memberontak.

Ramadhan memberi saya ruang untuk melihat ulang semuanya. Dan di ruang itu, album berat dari band post-metal Amerika ini justru menjadi semacam mihrab pribadi. Tempat saya berdiri, tidak selalu lurus, tidak selalu sempurna, tetapi setidaknya sadar bahwa saya sedang mendengarkan, bukan hanya musik, melainkan gema diri sendiri yang selama ini tenggelam dalam kebisingan dunia.

Jika ada yang saya pelajari, mungkin hanya ini: Tuhan tidak selalu hadir dalam suara yang pelan. Kadang Ia bersembunyi dalam distorsi yang paling tebal, menunggu kita cukup sabar untuk mendengarkan sampai akhir.

Leave a comment